Pemberontakan PETA di Blitar: Perlawanan Terhadap Fasisme Jepang
Artikel sejarah tentang Pemberontakan PETA di Blitar tahun 1945 melawan fasisme Jepang, mencakup latar belakang pendudukan Jepang, Jugun Ianfu, peran Supriyadi, dan dampaknya terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan Kolonel Sudirman.
Pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air) di Blitar pada 14 Februari 1945 merupakan salah satu perlawanan terorganisir terbesar terhadap pendudukan Jepang di Indonesia. Peristiwa ini terjadi di tengah tekanan fasisme militer Jepang yang semakin intensif, terutama dalam tahun-tahun terakhir Perang Dunia II. Pemberontakan ini dipimpin oleh Supriyadi, seorang perwira PETA berusia 25 tahun, dan melibatkan sekitar 1.600 prajurit yang menolak kekejaman serta eksploitasi Jepang terhadap rakyat Indonesia.
Latar belakang pemberontakan ini tidak dapat dipisahkan dari konteks sejarah Indonesia yang lebih luas. Sebelum kedatangan Jepang pada 1942, Indonesia telah mengalami penjajahan Belanda selama berabad-abad, dimulai dengan slot indonesia resmi berdirinya VOC pada 1602 yang menguasai perdagangan rempah-rempah. Periode penjajahan Belanda ini menciptakan dasar-dasar perlawanan nasional yang kemudian memuncak dalam Sumpah Pemuda 1928, yang menyatukan berbagai kelompok etnis dalam satu identitas kebangsaan Indonesia.
Kedatangan Jepang pada Maret 1942 awalnya disambut oleh sebagian rakyat Indonesia sebagai pembebas dari penjajahan Belanda. Jepang mempropagandakan diri sebagai "saudara tua" Asia yang akan membebaskan bangsa-bangsa Asia dari imperialisme Barat. Namun, kenyataannya justru sebaliknya. Pendudukan Jepang (1942-1945) ternyata lebih kejam dan eksploitatif daripada penjajahan Belanda. Sistem romusha (kerja paksa) diterapkan secara massal, menyebabkan ratusan ribu rakyat Indonesia tewas karena kelaparan, penyakit, dan perlakuan brutal.
Salah satu aspek paling kelam dari pendudukan Jepang adalah sistem Jugun Ianfu atau "wanita penghibur" yang sebenarnya merupakan bentuk perbudakan seksual terorganisir. Ribuan perempuan Indonesia, kebanyakan dari keluarga miskin, dipaksa menjadi budak seks untuk tentara Jepang. Praktik keji ini menambah kebencian rakyat terhadap pemerintahan militer Jepang dan menjadi salah satu faktor yang memicu perlawanan, termasuk di kalangan prajurit PETA yang menyaksikan langsung penderitaan rakyat.
PETA sendiri dibentuk oleh Jepang pada 3 Oktober 1943 sebagai pasukan sukarela untuk membantu pertahanan menghadapi Sekutu. Jepang berharap dapat memanfaatkan semangat nasionalisme Indonesia untuk kepentingan perang mereka. Namun, justru dalam tubuh PETA-lah tumbuh perlawanan terorganisir terhadap Jepang. Para perwira dan prajurit PETA, meski dilatih oleh Jepang, tetap mempertahankan semangat nasionalisme Indonesia dan semakin tidak tahan menyaksikan penderitaan rakyat akibat kebijakan Jepang.
Pemberontakan di Blitar dipicu oleh beberapa faktor langsung. Pertama, kondisi ekonomi yang semakin parah akibat eksploitasi Jepang. Kedua, perlakuan diskriminatif terhadap prajurit Indonesia oleh perwira Jepang. Ketiga, informasi tentang kekalahan Jepang di berbagai front perang yang mulai tersebar. Keempat, pengaruh dari gerakan bawah tanah nasionalis yang tetap aktif selama pendudukan Jepang. Supriyadi, sebagai pemimpin pemberontakan, berhasil memanfaatkan ketidakpuasan ini untuk mengkonsolidasikan perlawanan.
Pemberontakan dimulai pada dini hari 14 Februari 1945 ketika pasukan PETA di bawah pimpinan Supriyadi merebut senjata dan mengambil alih markas di Blitar. Mereka berhasil menguasai kota selama beberapa jam sebelum Jepang mengerahkan pasukan besar-besaran untuk menumpas pemberontakan. Pertempuran sengit terjadi di berbagai titik di Blitar, dengan korban jiwa di kedua belah pihak. Meski akhirnya berhasil ditumpas, pemberontakan ini memiliki dampak psikologis yang besar terhadap Jepang dan moral yang tinggi bagi perjuangan Indonesia.
Setelah pemberontakan ditumpas, Jepang melakukan penangkapan massal terhadap para peserta. Sebagian besar dieksekusi, termasuk banyak perwira PETA. Supriyadi sendiri menghilang setelah pemberontakan dan tidak pernah ditemukan lagi, menjadikannya simbol perlawanan misterius. Pemberontakan Blitar ini menjadi preseden penting yang menunjukkan bahwa perlawanan bersenjata terhadap Jepang dimungkinkan, dan ini mempengaruhi perkembangan peristiwa berikutnya menuju proklamasi kemerdekaan.
Pasca kekalahan Jepang pada Agustus 1945 dan proklamasi kemerdekaan Indonesia, semangat perlawanan PETA di Blitar terus hidup dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Banyak mantan prajurit PETA bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang kemudian menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Di antara mereka muncul tokoh-tokoh seperti Kolonel Sudirman, yang meski tidak terlibat langsung dalam pemberontakan Blitar, mewakili semangat perlawanan yang sama terhadap penjajahan asing.
Kolonel Sudirman, yang terpilih sebagai Panglima Besar TKR pada November 1945, menjadi simbol perlawanan terhadap upaya Belanda untuk kembali menjajah Indonesia melalui agresi militer. Perjuangan Sudirman dan tentara Republik melawan pasukan Belanda yang didukung Sekutu mencerminkan kelanjutan dari semangat perlawanan yang dimulai oleh pemberontakan PETA di Blitar. Perlawanan bersenjata ini berlangsung hingga pengakuan kedaulatan Indonesia pada 1949
.
Proses menuju pengakuan kedaulatan melalui berbagai tahap diplomatik dan militer. Setelah proklamasi kemerdekaan, Belanda tidak mengakui Republik Indonesia dan berusaha kembali berkuasa melalui kekuatan militer. Konflik ini memuncak dalam Agresi Militer Belanda I (1947) dan II (1948). Intervensi PBB dan tekanan internasional akhirnya memaksa Belanda untuk berunding, menghasilkan link slot pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS) pada 27 Desember 1949 melalui Konferensi Meja Bundar.
Pembentukan RIS ini merupakan kompromi politik yang menciptakan negara federal di bawah Uni Indonesia-Belanda. Meski mendapat pengakuan de facto internasional, struktur federal ini tidak populer di kalangan nasionalis Indonesia yang menginginkan negara kesatuan. Pada 17 Agustus 1950, RIS dibubarkan dan Indonesia kembali menjadi negara kesatuan. Proses ini menunjukkan dinamika perjuangan Indonesia yang tidak hanya melawan penjajah asing tetapi juga menentukan bentuk negara yang diinginkan.
Peran Inggris dalam periode ini juga signifikan, terutama melalui Mayjen Robert Mansergh yang memimpin pasukan Sekutu di Jawa Timur. Meski awalnya bertugas melucuti tentara Jepang, pasukan Mansergh sering berhadapan dengan pejuang Indonesia yang mencurigai niat Belanda untuk kembali berkuasa. Pertempuran Surabaya November 1945, di mana Mansergh mengeluarkan ultimatum kepada pejuang Indonesia, menjadi salah satu konflik terbesar dalam revolusi kemerdekaan.
Pemberontakan PETA di Blitar meninggalkan warisan penting dalam sejarah Indonesia. Pertama, pemberontakan ini menunjukkan bahwa perlawanan terhadap fasisme Jepang tidak hanya mungkin tetapi juga dapat dilakukan secara terorganisir. Kedua, pemberontakan ini menginspirasi perlawanan di daerah lain dan mempercepat proses menuju kemerdekaan. Ketiga, pemberontakan ini menjadi bukti bahwa militer Indonesia memiliki akar sejarah dalam perlawanan terhadap ketidakadilan dan penjajahan.
Dalam konteks yang lebih luas, pemberontakan Blitar merupakan bagian dari gelombang perlawanan terhadap fasisme di Asia selama Perang Dunia II. Seperti perlawanan di Filipina, Burma, dan Vietnam terhadap Jepang, perlawanan di Indonesia menunjukkan bahwa nasionalisme Asia bangkit tidak hanya melawan imperialisme Barat tetapi juga terhadap imperialisme Jepang yang menyamar sebagai pembebasan Asia.
Pelajaran dari pemberontakan ini tetap relevan hingga hari ini. Perlawanan terhadap ketidakadilan, penindasan, dan pelanggaran hak asasi manusia harus dilakukan dengan keberanian dan pengorbanan. Nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Supriyadi dan prajurit PETA - kemerdekaan, keadilan, dan martabat bangsa - tetap menjadi fondasi penting bagi Indonesia modern. Pemberontakan Blitar mengingatkan kita bahwa kemerdekaan yang kita nikmati sekarang dibayar dengan harga mahal oleh para pejuang yang berani melawan kekuatan yang jauh lebih besar.
Warisan pemberontakan ini juga terlihat dalam perkembangan militer Indonesia pasca kemerdekaan. Banyak mantan prajurit PETA menjadi perwira penting dalam TNI dan berperan dalam konsolidasi negara kesatuan. Semangat perlawanan terhadap penjajahan asing menjadi bagian dari doktrin pertahanan Indonesia yang menekankan kedaulatan dan kemandirian. Pemberontakan Blitar, meski secara militer gagal, secara politis dan psikologis berhasil membangkitkan semangat perlawanan yang akhirnya membawa Indonesia kepada kemerdekaan.
Dalam historiografi Indonesia, pemberontakan PETA di Blitar sering mendapat perhatian khusus karena sifatnya yang terorganisir dan melibatkan pasukan yang sebenarnya dibentuk oleh penjajah sendiri. Ini menunjukkan kompleksitas hubungan antara kolonialis dan koloni, serta bagaimana alat-alat penjajahan dapat berbalik melawan penjajah itu sendiri. Pemberontakan ini juga menjadi contoh bagaimana nasionalisme dapat tumbuh dalam kondisi yang paling represif sekalipun.
Penelitian tentang pemberontakan ini terus berkembang dengan ditemukannya dokumen-dokumen baru dan kesaksian dari pelaku sejarah. Setiap generasi menemukan makna baru dari peristiwa ini, sesuai dengan konteks zamannya. Yang tetap konstan adalah pengakuan terhadap keberanian para pejuang yang mempertaruhkan nyawa mereka untuk melawan ketidakadilan. Pemberontakan PETA di Blitar tetap menjadi bagian penting dari memori kolektif bangsa Indonesia tentang perjuangan menuju kemerdekaan.
Sebagai penutup, pemberontakan PETA di Blitar bukan hanya peristiwa sejarah lokal tetapi bagian integral dari perjuangan nasional Indonesia melawan fasisme dan penjajahan. Dari slot deposit qris Sumpah Pemuda 1928 yang mempersatukan bangsa, melalui pendudukan Jepang yang kejam, hingga perlawanan bersenjata seperti di Blitar, dan akhirnya mencapai kemerdekaan dengan pengorbanan besar - semua ini membentuk karakter bangsa Indonesia yang pantang menyerah dalam memperjuangkan hak dan martabatnya. Pemberontakan Blitar mengajarkan bahwa bahkan dalam situasi yang paling sulit sekalipun, semangat perlawanan terhadap ketidakadilan tidak pernah padam.